| KPU | | | Bawaslu | | | Partai Politik | | | Pemantau | | | Kandidat | | | Pemilih | | | Media Massa | | | Lembaga Survei | | | Mahkamah Konstitusi |
| KPU | | | Bawaslu | | | Partai Politik | | | Pemantau | | | Kandidat | | | Pemilih | | | Media Massa | | | Lembaga Survei | | | Mahkamah Konstitusi |
JAKARTA [KANALPEMILU.NET] --Ketika dipilih SBY untuk mendampinginya sebagai cawapres dalam Pilpres 2009, Boediono mengaku seperti masuk dunia yang baru. Pengakuan Boediono ini tidaklah berlebihan, karena selama ini dirinya dikenal sebagai akademisi dan ekonom. Suami dari Herawati ini memang seorang Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada yang telah mengajar di kampus tersebut sejak tahun 1970-an.
Nama Boediono juga jauh dari dunia politik. Terakhir, pria kelahiran Blitar 25 Februari 1943 ini menjabat Gubernur Bank Indonesia. Dia memangku jabatan ini sejak 9 April 2008, menggantikan Burhanuddin Abdullah. Sebelumnya menjabat Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu, Menteri Keuangan Kabinet Gotong Royong (2001–2004) dan Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999), Boediono telah menjabat Menteri Negara Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Ia juga pernah menjabat Direktur Bank Indonesia pada masa pemerintahan Soeharto.
Selama menjabat di tim ekonomi pemerintah, ada yang menilai Boediono sebagai ekonom yang bertangan dingin. Selama menjabat Menkeu Kabinet Gotong-Royong (masa pemerintahan Megawati) Boediono dianggap berhasil membenahi bidang fiskal, masalah kurs, suku bunga dan pertumbuhan ekonomi.
Indikator yang dipakai untuk penilaian ini adalah kurs rupiah yang stabil pada kisaran Rp 9.000-an per dolar AS. Begitu pula dengan suku bunga berada dalam posisi yang cukup baik merangsang kegiatan bisnis, sehingga pertumbuhan ekonomi menaik secara signifikan. Setelah itu, dia bersama tim ekonomi Kabinet Gotong-Royong, secara terencana mengakhiri kerjasama dengan IMF (Dana Moneter Internasional) Desember 2003.
Tapi di sisi lain, ada juga yang yang menilai Boediono terlalu dekat dengan IMF. Boediono saat menjabat Gubernur BI, secara ex officio juga menjabat sebagai Dewan Gubernur IMF. Ini pula yang menyebabkan dalam kemunculannya sebagai cawapres, Boediono disebut sebagai pengusung neoliberalisme. Salah satu tokoh yang keras menyebut Boediono sebagai penganut neoliberalisme adalah Kwik Kian Gie, koleganya di Kabinet Pemerintahan Megawati. Kwik Kian Gie bahkan sempat menantang berdebat untuk membuktikan Boediono adalah seorang neolib.
Ternyata, antara Boediono dan Kwik Kian Gie memang terjadi persoalan sejak lama. Situs www.tokohindonesia.com menulis Boediono berhasil menggalang kerjasama dengan Bank Indonesia dan tim ekonomi lainnya, kecuali dengan Kwik Kian Gie yang kala itu tampak berbicara sendiri sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/ Kepala Bappenas.
Apapun, itulah isu yang harus dihadapi oleh Boediono sebagai seorang cawapres. Dia harus berada diantara citra sebagai ekonom bertangan dingin sekaligus tudingan sebagai penganut neolib. ***