Hasil Pemantauan Berita Pemilu di Media Cetak
Periode 5-30 Januari 2009
Institut Studi Arus Informasi (ISAI)

Pemilu 2009 menggunakan cara memilih baru dengan menandai surat suara. Ada kekhawatiran suara tidak sah akan meningkat karena masyarakat salah memberi tanda. Media tidak banyak mengangkat bagaimana cara memilih yang baru. Media lebih banyak mengangkat peluang kalah-menang bakal calon presiden. Agenda masyarakat dalam pemilu pun tidak banyak yang terangkat.
Ini temuan monitoring berita pemilu di sebelas media cetak yang terbit di Jakarta, yaitu Indo Pos, Jurnal Nasional, Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Rakyat Merdeka, Republika, Seputar Indonesia, Sinar Harapan, Suara Karya, Suara Pembaruan, Majalah Tempo dan Majalah Gatra, periode 5-30 Januari 2009.
Media massa masih sangat minim dalam memberitakan informasi tentang tata cara memilih ini. Monitoring pemberitaan pemilu ISAI di media cetak periode 5-30 Januari 2009 menemukan hanya 5 berita yang memberitakan tentang pendidikan pemilih dan 94 pemberitaan tentang sosialisasi pelaksanaan pemilu (lihat tabel 2 tema berita). Pemberitaan masalah tata cara memilih itu pun hanya kritikan dari pengamat politik. Media tidak mengagendakan secara khusus tentang tata cara memilih di bilik suara pada pemilu mendatang. Pemberitaan kritikan itu diberitakan oleh Suara Karya, 10 Januari 2009, Masyarakat Pedesaan Kesulitan dengan Sistem Contreng. Suara Karya melalui pengamat politik dari Universitas Gajah Mada, Cornelis Lay, MA mengkritik tentang pendidikan pemilih yang kurang tentang tata cara sistem pemilihan di bilik suara pada pemilu legislatif nanti. Cornelis mengatakan masyarakat pedesaan akan menghadapi kendala dengan sistem pemilihan legislatif berbasis pemilihan individu calon melalui cara mencontreng nama.
Padahal media massa khususnya TV telah menjadi sumber informasi pemilu bagi masyarakat. Koran Sindo (26 Januari 2009) menyebutkan 60 persen masyarakat memperoleh informasi tentang kontestan pemilu dari televisi, 22 % persen memperoleh informasi dari koran/majalah/tabloid serta radio 3 %.
(Materi selengkapnya, di attachment dalam format PDF)