Skip to content

Mayjen TNI Purn Asril Hamzah Tanjung

Gerindra, Daerah pemilihan Kepulauan Riau, Akademi Militer 1973

Mirip dengan pengalaman Darmawi Chaidir, Asril Tanjung mulai dikenal saat memimpin Kontingen Garuda. Benar, saat Konga XII C mengakhiri tugasnya di Kamboja, kemudian digantikan Konga XII D, yang berintikan anggota Yonif 303/Kostrad (Garut), dipimpin oleh Letkol Inf Asril Tanjung.

Letkol Inf Asril Tanjung sebenarnya adalah Komandan pengganti, karena Komandan XII D sebelumnya, yakni Letkol Inf Saptaji Siswaya (kini masih berdinas sebagai kepala biro di Dephan), terkena ranjau dalam sebuah patroli, hingga harus dievakuasi dan dipulangkan ke Tanah Air.

Sepulang dari Kamboja, namanya sempat “menghilang” cukup lama. Baru menjelang masa reformasi (1998) dia diangkat sebagai Komandan Korem 012/Teuku Umar di Aceh, yang saat itu masih menjadi kawasan bergolak (Daerah Operasi Militer). Dari Aceh, pada akhir 1999, ia dipromosikan sebagai Kepala Staf Kodam I/Bukit Barisan, dengan pangkat brigjen. Bintang dua diraihnya saat diangkat sebagai Kepala Staf Komando Cadangan Strategis TNI Ankatan Darat (Kostrad). Dalam posisi sebagai Kepala Staf Kostrad inilah, namanya sering diliput media, karena dalam jabatan itu, ia merangkap sebagai Direktur Utama Mandala, maskapai penerbangan di bawah Yayasan Darma Putra (Kostrad), sebelum akhirnya perusahaan itu dilepas oleh Kostrad, dan kini telah menjadi swasta penuh.

Apa kira-kira “modal” sosial Asril Tanjung selaku caleg? Salah satunya adalah komunitas warga Minangkabau di perantauan, kebetulan dia adalah tokoh organisasi warga Minang di perantauan (Gebu Minang). Kita tahu, peran warga asal Minang di Riau sangat dominan (50% penduduk Riau adalah orang Minang), terutama aktivitas ekonominya, dan populasinya lumayan besar, rupanya “ceruk” ini yang coba dibidik Asril. ***