Skip to content

Letjen TNI Purn Arifin Tarigan

Hanura, Dapil Sumut III, AMN 1965

Dalam dapil yang sama dengan Tri Tamtomo, yaitu Sumut III, terdapat caleg yang juga purnawirawan, yaitu Arifin Tarigan. Jabatan penting yang pernah dipegang purnawirawan kelahiran 29 Agustus 1942, antara lain adalah: Danrem 143/Haluleo (Kendari), Komandan Pussenif, Komandan Seskoad dan Sekjen Wanhankamnas.

Meski telah mencapai pangkat tiga bintang (letjen), namun Arifin Tarigan tidak pernah menjabat Pangdam, itu mungkin yang menyebabkan namanya kurang dikenal dibanding teman sekelasnya di AMN 1965, seperti Letjen TNI Purn Yunus Yosfiah (kini aktif di PPP), Mayjen TNI Purn Theo Syafei (kini aktif di PDI-P), Mayjen TNI Purn Syamsir Siregar (Kepala BIN), Letjen TNI Purn Soejono (Ketua Umum MKGR, organisasi KINO Golkar masa Orde Baru), dan lain-lain. Benar, penugasan Arifin Tarigan lebih banyak di lembaga pengembangan personel dan pendidikan. Itu menunjukkan dia adalah tipe perwira pemikir atau konseptor.

Majunya Arifin Tarigan sebagai caleg, menambah jumlah purnawirawan asal AMN 1965, yang masih eksis hingga sekarang, seperti telah disebut di atas. Yang paling fenomenal dari AMN 1965, adalah saat Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2004 lalu. Seperti ungkapan Inggris "old soldier never die", purnawirawan AMN 1965 tersebar pada hampir semua pasangan capres-cawapres, sebagai tim sukses.

Yang paling banyak berkumpul di sekitar SBY. Selain Syamsir Siregar, terdapat nama Mayjen TNI Purn Haris Sudarno, Mayjen TNI Purn Achdari, dan Letjen TNI Purn M Maroef (sempat menjadi Mendagri, sebelum digantikan Mardiyanto, karena sakit). Sejak mereka masih berdinas aktif dulu, angkatan ini memang sudah fenomenal, salah satunya adalah jumlah lulusannya yang besar (hampir 400 orang), dibanding generasi lainnya di era 1960-an. Karena lulusannya terbilang besar, maka jumlah alumninya yang mencapai strata pati juga besar. Di masa puncak karir generasi ini, seputar tahun 1993-1994, mereka pernah menempati posisi delapan Pangdam, secara bersamaan, dari 10 Kodam yang ada saat itu. Praktis mereka hanya "menyisakan" dua pos Pangdam untuk Angkatan yang lain: Mayjen TNI A Pranowo (Pangdam I/BB, Akmil 1963) dan Mayjen TNI Hendro Prijono (Pangdam Jaya, Akmil 1967).

Namun begitu entah mengapa jabatan pangdam tidak pernah singgah pada Arifin Tarigan, karena jabatan pangdam mirip dengan jabatan publik, yang banyak berhubungan dengan masyarakat, hingga berpengaruh pada tingkat popularitasnya. Dalam persaingan ketat antarcaleg seperti sekarang, dengan sistem perhitungan suara terbanyak, popularitas seseorang bisa membantu mendulang suara. ***