Skip to content

Setelah Massa Memilih Kini Elite yang Menentukan

Senin, 13 April 2009

JAKARTA [KANALPEMILU.NET] – Seorang pemilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), ia seorang elite media, seorang redaktur yang sangat senior, gundah setelah hari pemilihan. Mengapa? Ia melihat di televisi Taufik Keimas memastikan PDI-P akan berkoalisi dengan Partai Gerindra dan Partai Hanura.

Dua partai ini ini dipimpin dua jendral, Letjen TNI (Purn) Prabowo dan Jendral TNI (Purn) Wiranto, yang memiliki peran penting di masa kekuasaan Orde Baru. Masa-masa yang penuh dengan pelanggaran hak asasi manusia, penghilangan orang secara paksa (involuntary disappearence) , penahanan semena-mena, pembunuhan, unlawfull killing, dan pengekangan hak-hak politik lainnya.

Ia bertanya,” Saya memang tak berharap banyak dari pimpinan PDI-P dalam memegang prinsip, tapi berita itu sangat memasgulkan. Saya tidak tahu, sebagai pemilih PDI-P saya ingin diberitahu, bagaimana sikap dan langkah kawan-kawan yang ada dalam partai itu kini. Sejauh mana hal-hal seperti ini bisa diterima?”

Seorang pemilih Partai Demokrat, ia seorang biasa, bagian dari massa, juga merasa tidak setuju Partai Demokrat berkoalisi dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Ia berharap partai Demokrat mendengar suara para pemilihnya.

Setelah Pemilu, setelah elite partai-partai merayu massa agar memilih partainya, dan menempatkan massa sebagai bagian terpenting dalam pengambilankeputusan politik, maka kini yang berlaku adalah teori elite baik teori elite yang digagas oleh Vilfredo Pareto, Gaetano Mosca maupun Wrigh Mills. Menurut mereka kelompok elite adalah kelompok yang selalu menentukan, dengan atau tanpa demokrasi. Kedudukan kelompok elite sangat menentukan karena elite yang selalu minoritas jumlahnya menentukan mayoritas keputusan.

Massa telah memandatkan kekuasaan ke elite dalam Pemilu, setelah itu massa tidak punya hak lagi untuk ikut menentukan keputusan yang dibuat oleh elite. Inilah sisi gelap demokrasi. (***)