Skip to content

SIGMA: 90% Pemilih Tolak Politik Uang

Rabu, 8 April 2009

JAKARTA [KANALPEMILU.NET] -- Sikap pemilih terhadap praktik politik uang (money politic) dalam Pemilu 2009 kali ini cukup cerdas. Hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi (SIGMA) Indonesia menunjukkan bahwa pilihan masyarakat pada hari pemungutan suara nanti tidak akan terpengaruh oleh politik uang.

“Dalam jajak pendapat ini, sekitar 90% responden menyatakan menolak politik uang. Mahasiswa dan buruh mendominasi sikap penolakan ini. Sedangkan ibu-ibu rumah tangga di dapil DKI Jakarta 3, Jawa Barat 7 dan Banten 3, rentan terpengaruh politik uang,” kata Said Salahuddin, Koordinator Divisi Kepemiluan SIGMA, dalam rilisnya yang diterima kanalpemilu.net di Jakarta, Rabu 8 April 2009.

Dari jumlah 90% pemilih yang menyatakan tidak akan memilih partai atau calon yang berpolitik uang, 50% diantaranya mengatakan tetap akan menerima uang/materi yang diberikan kepadanya. Sedangkan pemilih yang masih ragu dan mendukung politik uang, masing-masing jumlahnya hanya 8%.

Koordinator SIGMA, Christofel Nalenan mengatakan, hasil diatas menunjukkan bahwa pemilih pada Pemilu 2009 sudah cukup cerdas dalam menyikapi perilaku buruk dari partai atau calonnya yang berusaha mempengaruhi pilihan mereka lewat cara-cara yang curang.
Selain itu, SIGMA juga melakukan jajak pendapat tentang sikap pemilih terhadap partai
politik yang calon legislatifnya terlibat korupsi. Hasilnya, sekitar 57% pemilih
bersikap untuk tidak memilih partai yang calonnya diketahui terlibat korupsi.

“Sikap kelompok pemilih ini, dapat juga disebut sebagai bentuk hukuman masyarakat
terhadap calon atau partai politik yang dinilai tidak mampu mengemban amanah sebagai
wakil rakyat,” ujar Christofel.

Jajak pendapat ini sendiri diselenggarakan pada tanggal 19 Maret-4 April 2009, dengan
melibatkan 901 responden di tujuh Daerah Pemilihan (12 kota/kabupaten) di tiga Provinsi, yakni DKI Jakarta (Dapil 1,2 dan 3), Jawa Barat (Dapil 5,6 dan 7) dan Banten (Dapil 3). Margin of error dari jajak pendapat ini sebesar 2,8%. (Leli Qomarulaeli/Mawardi)