Skip to content

Jelang Pemilu, KPU Harus Kerja Keras

Selasa, 3 Maret 2009

JAKARTA [KANALPEMILU.NET] - Sebulan menjelang pelaksanaan Pemilu, persiapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) masih dihadapkan pada berbagai permasalahan. Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) menilai masih banyak hal yang harus diperhatikan, antara lain soal rendahnya partisipasi pemilih, sosialisasi, money politics dan masalah distribusi.

Koordinator Nasional JPPR Daniel Zuchron menyatakan bahwa temuan JPPR di lapangan tentang rendahnya partisipasi pemilih disebabkan sosialisasi yang sangat kurang, baik dari pihak penyelenggara maupun dari parpol. Selain itu, rendahnya partisipasi pemilih juga bisa disebabkan sikap apatis masyarakat karena banyak calon yang tidak berkualitas dan tidak punya integritas sehingga tidak memberi perubahan apapun.

Di samping itu, JPPR menilai rendahnya partisipasi pemilih karena tidak sedikit masyarakat yang lebih bersikap praktis dengan memilih tetap bekerja dari pada pergi ke tempat pemungutan suara (TPS). "Faktor terakhir yang sangat mengkhawatirkan kita adalah makin jenuh dan cueknya masyarakat kita akan pemilu," ujar Daniel Zuchron kepada wartawan dalam jumpa pers di Jakarta, Senin, 2 Maret 2009.

JPPR juga mengungkapkan kekhawatiran terjadinya kerumitan dalam proses pemungutan suara pada hari pelaksanaannya. Misalnya kelengkapan logistik, jumlah pemilih yang banyak sementara waktu relatif sedikit, kertas suara yang jauh lebih besar dari kotak suara, penentuan sah dan tidaknya surat suara, dan penghitungan yang membutuhkan waktu yang panjang. "Kalau pemilih tidak mendapatkan informasi yang luar biasa dalam sebulan ini, akan menimbulkan rendahnya partisipasi pemilih. Pemilih masih memandang bahwa pemilu tidak bermakna besar bagi mereka. Kalau ini terjadi, kerja panjang persiapan pemilu akan sia-sia tanpa partisipasi yang tinggi," tambah Daniel.

Selain JPPR juga memprediksi praktik money politics di masa kampanye terbuka.Menurut Daniel, mekanisme penentuan calon terpilih melalui surat suara terbanyak menciptakan kompetisi yang lebih tinggi. Modusnya bisa seperti, pembagian uang, sembako, sayembara berhadiah dengan pembagian kupon berhadiah yang diundi saat kampanye peserta, dan lain-lain.

Dalam pertemuan itu, JPPR merekomendasikan tiga hal: pertama, mendorong KPU untuk bekerja keras, profesional dan menjalin sinergi dengan pihak Bawaslu, Pemerintah, dan kalangan civil society untuk mewujudkan Pemilu 2009 yang demokratis dan berkualitas. Kedua, Bawaslu/Panwaslu hendaknya mengawal kinerja KPU dan bekerja keras melakukan fungsi pengawasan setiap tahapan Pemilu 2009. Terakhir, mengajak partisipasi aktif warga masyarakat untuk mengikuti setiap tahapan Pemilu 2009.(Leli Qumarulaeli/Mawardi)